Pak Doktor dan Kamar Mandi Santri

Bagi kami, ibarat ibadah, kamar mandi punya rukun yang jika salah satu tertinggal, tidak sah tempat itu disebut kamar mandi.

Siang itu semua santri kami wajibkan tidur siang untuk menambah imunitas mereka. Ritual tidur siang sejenak lebih dikenal dengan istilah qoilulah. Qoilulah berasal dari kata qoola yaqiilu yang berarti istirahat sejenak di waktu siang hari dengan tujuan mengembalikan kebugaran, menumbuhkan semangat baru, menghimpun kekuatan, dan menyegarkan badan serta pikiran. Kata qoilulah adalah mashdar yang dibentuk dari wazan fa’lulah. Qoilulah kali ini berlangsung lama sepanjang masa pandemi Covid 19.

Meskipun semua santri istirahat, kantor tidak kosong. Ada ustadz piket jaga kantor yang bertugas standby menerima tamu, paket, dan menjalankan rutinitas administrasi harian kantor. Waktu menunjukkan pukul 13.45 wib saat sebuah mobil layanan transportasi online berbasis aplikasi memasuki area parkir di lapangan basket depan gedung baru. Tampak sepasang suami istri paruh baya menenteng koper perjalanan dan seorang anak perempuan berjilbab menggendong tas ransel di punggungnya.

Sang bapak berjalan melihat kondisi dan mencari seseorang yang bisa ditemui. Saya yang sedang di kantor ditemani ustadz piket melihat beliau mendekati kantor. Ustadz piket langsung menyambut kedatangan beliau tepat di depan pintu ruang pimpinan. “Assalaamu’alaikum Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya ustadz piket. “Wa’alaikumussalam. Saya bersama istri dan anak mau survey pondok.” jawabnya santun. “Silakan masuk Pak.” kata ustadz jaga mempersilakan para tamu masuk ruang pimpinan.

Pendidikan kami mengajarkan bahwa kami hidup bersama di Makarimul Qur’an; bukan tinggal bersama. Hidup bersama mengindikasikan konsensus dan komitmen tumbuh kembang bersama. Sedangkan tinggal bersama tidak bernilai sedemikian rupa. Hidup bersama mengajarkan tanggung jawab, sense of belonging, kepedulian, dan pengertian.

Setelah mengisi buku tamu, saya memperkenalkan diri dan beramah tamah untuk memberi informasi yang diinginkan beliau. “Maaf ustadz, saya harus segera ke stasiun Purwokerto karena harus naik kereta ke Jakarta. Besok pagi kami harus terbang kembali pulang. Karena itu, saya ijin keliling pondok. Boleh ustadz?” katanya tanpa berhenti menyela obrolan pembuka kami. “Silakan Pak. Boleh kami temani?” kata saya menawarkan diri. “Tidak usah, saya tidak akan masuk kamar. Hanya keliling luar saja.” jawabnya. “Silakan Pak. Jika nanti ada yang ingin ditanyakan, silakan. Kami standby di sini.” jawab saya singkat.

Setelah berterima kasih dan mengucap salam, beliau langsung menaiki lantai 2 gedung kelas. Naik dari tangga kiri dan turun dari tangga kanan. Ruang kelas dilihat tidak lebih dari 5 menit. Di ujung tangga kanan, beliau belok masuk ke kamar mandi. Tidak ada suara air dari kran atau air diguyurkan ke closet. Beliau dan keluarganya tidak memakai kamar mandi. Setelah itu rombongan memasuki teras gedung asrama dan melihat kondisi kamar dari jendela luar. Sekali jalan dan singkat. Tidak berlama lama. Para tamu lanjut ke masjid di lantai 2 setelah memasuki aula pertemuan di lantai 1. Mereka naik dari tangga depan kanan dan turun dari tangga belakang kiri. Saat turun, mereka langsung masuk ke kamar mandi belakang masjid. Tidak lama juga di sana. Mereka langsung kembali ke kantor Pimpinan.

Anjang sana survey tidak lebih dari 15 menit. Saya bergegas menemui beliau di luar ruangan. “Bagaimana Pak, sudah kelilingnya?” tanya saya menyambut kedatangannya. “Sudah cukup ustadz.” jawabnya. “Ada yang ingin ditanyakan Pak?” susulan pertanyaan saya sampaikan. “Cukup ustadz. Tolong nanti link pendaftaran dikirim ke nomor whatsapp saya di buku tamu ya.” pintanya. “Baik Pak.” jawab saya. “Kalau boleh tahu, bagaimana secepat ini bapak ambil keputusan mau mendaftarkan anak bapak?” tanya saya penasaran. “Oh itu. Saya sudah lihat kamar mandinya. Bersih dan rapi. Tidak kotor, tidak bau pesing. Semua berfungsi.” katanya. “Apa hubungannya Pak, antara kamar mandi dan keputusan pendaftaran?” tanya saya penuh rasa ingin tahu. “Kalau pondok ini bisa memanage kamar mandi sebaik dan sebersih itu, saya yakin, in syaa Allah pondok ini juga bisa memanage kurikulum dan urusan-urusan kependidikan lainnya. Jadi saya yakin memilih pondok ini untuk anak saya.” jawabnya tegas.

Mak deg. Begitulah kurang lebih saya terhenyak mendengar jawaban out of the box dari pak Doktor yang satu ini. Beliau memiliki sebuah perspektif berbeda dalam melihat sebuah lembaga pendidikan untuk anaknya. Perspektif yang lain dari pada yang lain. Perspektif tidak umum yang diucapkan oleh seorang yang berpendidikan doktoral strata 3. Perspektif yang hampir-hampir tidak pernah terpikirkan dan tidak ada dalam kamus para pengelola lembaga pendidikan a la pesantren.

Pikiran saya stagnan seketika. Saya duduk terpaku merenung memutar kembali perjalanan kami mendidik para santri dan membiasakan mereka setiap hari piket ‘ngosek’ WC dan membersihkan lingkungan. Pikiran kami dalam kegiatan ini semata-mata hanya memastikan kebersihan lingkungan, kenyamanan pengguna fasilitas umum, dan mengeliminasi potensi bahaya kecelakaan seperti terpeleset dll. Tidak lebih dan tidak kurang. Ternyata di balik itu, kebersihan kamar mandi membawa dampak yang sangat besar bagi para penghuninya, juga tamu yang datang mengunjunginya. Tak hanya itu, sebuah keputusan besar memilih tempat pendidikan anak didasarkan pada kondisi kebersihan kamar mandinya.

Bagi kami, ibarat ibadah, kamar mandi punya rukun yang jika salah satu tertinggal, tidak sah tempat itu disebut kamar mandi. Rukun-rukun kamar mandi tersebut adalah pintu berfungsi penuh tidak rusak tidak lubang dan bergerendel dari dalam, closet, lantai, dan pembuangan bersih berfungsi normal, kran utuh berfungsi tidak rusak, air mengalir 24 jam, ada ember, gayung, sikat wc, tempat sampah, dan gantungan baju. Dalam guyonan standar yang kami gaungkan setiap waktu adalah bahwa kamar mandi harus bisa buat tidur saking bersihnya.

Pondok ini tidak punya karyawan cleaning service, tidak ada karyawan petugas janitor, tidak ada karyawan petugas reservoir dan sanitasi. Semua aktivitas dilakukan oleh santri sebagai bentuk pendidikan. Mereka dilatih untuk menjaga, merawat, dan bertanggung jawab atas aset bersama.

Kamar mandi mewakili aspek kebersihan diri dalam fikih thoharoh khususnya mandi dan wudhu. Kamar mandi harus dibuat sejumlah rasio rumah tangga ideal yaitu 1 kamar mandi untuk 5 jiwa. Pembuatannya juga harus memperhitungkan waktu mandi yang tersedia dalam seharinya. Kecukupan airnya harus diperhitungkan juga sejumlah jiwa dikalikan kebutuhan air minimum untuk mandi, cuci, masak, dan lain-lain. Kami memakai 75 liter per orang per hari. Jika populasi 300 orang, maka tandon air harus cukup untuk 22.5 meter kubik setiap harinya. Jika waktu mandi banyak terpakai untuk olahraga pagi dan sore, maka akan terjadi penumpukan pemakaian kamar mandi dan penggunaan air dalam jumlah besar. Kondisi ini juga terjadi di setiah hari Jumat sebelum sholat Jumat. Jika kapasitas tandon tidak mumpuni, dan supply air dari sumur terlambat karena kapasitas pompa, jarak, ketinggian, dll, maka akan terjadi kelangkaan atau kekurangan air. Selain itu, aspek saluran pipanisasi harus tersentral yang memudahkan kontrol dan perbaikan saat terjadi kerusakan. Bagian teknik wajib memiliki cadangan kran dan grendel dengan ukuran yang sama di semua kamar mandi. Bagian Kebersihan wajib memiliki cadangan ember, gayung, dan sikat jika terjadi kerusakan atau pindah tempat. Lumrahnya santri, sering kejadian memakai alat kamar mandi untuk kebersihan dan lupa tidak mengembalikannya. Tidak adanya salah satu rukun bisa berdampak fatal dalam aktivitas keseharian.

Santri sendiri yang sudah terbiasa dengan lingkungan dan pola hidup bersih termasuk di kamar mandi, sudah pasti merasa nyaman. Kenyamanan mereka meningkatkan aspek kebetahan untuk belajar sampai tamat. Tak sedikit kami dapati komentar santri dan wali santri bahwa kamar mandi pondok lebih bagus dan lebih bersih daripada kamar mandi rumah mereka.

Pondok ini tidak punya karyawan cleaning service, tidak ada karyawan petugas janitor, tidak ada karyawan petugas reservoir dan sanitasi. Semua aktivitas dilakukan oleh santri sebagai bentuk pendidikan. Mereka dilatih untuk menjaga, merawat, dan bertanggung jawab atas aset bersama. Pendidikan kami mengajarkan bahwa kami di hidup bersama Makarimul Qur’an; bukan tinggal bersama. Hidup bersama mengindikasikan konsensus dan komitmen tumbuh kembang bersama. Sedangkan tinggal bersama tidak bernilai sedemikian rupa. Hidup bersama mengajarkan tanggung jawab, sense of belonging, kepedulian, dan pengertian.

Untuk Pak Doktor, terima kasih atas pelajaran berharga yang Bapak berikan kepada kami. Perspektif Bapak adalah masukan mahal yang kami jalani selama ini. In syaa Allah, harapan Bapak dari kebersihan kamar mandi dan semua konsekuensi logisnya bisa terwujud di sini. Dengan izin Allah SWT.

An-nadhofatu minal iimaan.

Bakda sholawat di Makarimul Qur’an

Ayah Saf.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top