Ngaji Qur’an Bersama dan Pembangunan Karakter Santri Makarimul Qur’an

Ada apa di balik mengaji dengan talaqi dan berjamaah? Apa filosofi di balik metode ini? Nilai apa yang ingin digali dengan penerapannya di dunia pesantren?

Suatu hari saya ditanya oleh salah seorang tamu, “Kenapa santri membaca Qur’an ditalaqi dengan suara jelas dan berjamaah?” Belum pernah saya ditanya dengan pertanyaan sedemikian sebelumnya. Pikiran saya langsung memberikan penilaian plus atas pertanyaan kritis sang tamu. Tidak semua tamu berpikiran sedemikian dan mempertanyakan hal yang fundamental seperti ini.

Metode ini sebenarnya sudah dipakai jamak di berbagai lembaga pendidikan keislaman. Mengaji Qur’an dengan berjamaah dan dipandu oleh salah satu guru atau musyrif menggunakan pengeras suara lazim ditemui di banyak pesantren. Tapi menjawab pertanyaan mengapa demikian, itu butuh perenungan dan refleksi yang mendalam.

Untuk menjawabnya, saya teringat beberapa kejadian yang related dengan kondisi metode ini. Pertama, dulu di awal merintis Pesantren Mumtaza, kami menerima banyak guru pengabdian lulusan berbagai pesantren di Jawa khususnya. Lumrahnya banyak pesantren menerapkan sistem pengabdian dan bagi si alumni, mereka mencari tempat untuk mengamalkan ilmunya yang selama ini dipelajari. Sebagai pesantren baru dirintis, kami menerima semua tanpa seleksi. Siapa yang datang dengan surat pengabdian atau datang tanpa surat dan mengajukan diri secara lisan, kami terima semua.

Mengaji kolektif sistem terpandu dan terarah itu esensinya adalah membangun kekuatan jamaah, membentuk daya tahan (endurance), membiasakan kebenaran, meminimalisir kesalahan, dan melakukan koreksi atas kesalahan tersebut.

Setelah program berjalan, kami mulai melakukan pemeriksaan kualitas bacaan Qur’an para guru pengabdian yang ada. Betapa tidak terkejut kami saat mendapati ternyata hanya + 25% yang lancar membaca Qur’an dengan tajwid yang baik; hampir + 50% personel yang kami terima lancar membaca Qur’an tapi tajwidnya amburadul; dan sisanya tidak lancar membaca dan tajwidnya ambyar.

Saat kami dalami mengapa hal ini bisa terjadi, ternyata ada benang merah antara mereka yang saya dapati. Mereka membawa bekal kemampuan mengaji Qur’an apa adanya dari sebelum masuk pesantren. Meskipun masuk pesantren ada tes bacaan Qur’annya, tapi kualifikasi mereka yang mayoritas lulusan SD sederajat, dipandang sudah cukup untuk anak seumur mereka di saat itu sehingga mereka diluluskan. Namun ketika mereka menjadi santri, mereka mengaku pelajaran membaca Qur’an tidak tersistematisasi dalam sebuah program yang diprioritaskan secara sengaja dan terukur. Kebanyakan mereka mengikuti ritme mengaji mandiri di waktu-waktu mengaji; tanpa bimbingan, tanpa supervisi, dan tanpa upgrade dari pengurus atau musyrif. Satu-satunya pelajaran membaca Qur’an yang ada adalah 2 jam pelajaran Tajwid di kelas setiap pekannya. Waktu yang tersedia ini tidak cukup efektif untuk mencover pengajaran Qur’an untuk 25 orang anggota kelas dalam 45 menit sekali pertemuan. Jika dikurangi pembukaan mengajar, presensi, penyampaian teori, dll waktu tersisa tinggal 30 menit. Jika guru harus menyimak dan memperbaiki bacaan murid, setiap orang hanya dapat semenit lebih sedikit. Kondisi ini terbawa sampai yang bersangkutan lulus.

Metode apapun yang dipakai dalam pendidikan Qur’an harus disengaja dipilih dan bukan kebetulan atau apa adanya. Pilihan ini menentukan produktivitas, efektivitas, dan efisiensi dalam proses pembelajaran.

Kedua, saya teringat saat silaturahim ke sebuah pesantren Qur’an dengan santri banyak sekali di bilangan Bogor Jawa Barat medio 2018. Saat itu belum ada pikiran dan rencana untuk mendirikan pesantren. Beliau sang ustadz bercerita banyak yang intinya ternyata beliau mendapati juga santri baru yang bacaan Qur’annya berantakan dalam jumlah mayoritas. Beliau mengeluhkan betapa sulitnya memperbaiki sesuatu yang sudah terlanjur rusak. Beliau memilih untuk mendidik yang belum kenal huruf hijaiyyah daripada memperbaiki yang sudah terlanjur bermasalah. Saya merenung mendengar penuturan beliau betapa sulitnya me-manage jumlah santri dan guru yang tersedia dalam waktu yang dialokasikan serta banyaknya hal yang harus diperbaiki. “Yakin, beliau jika bekerja di perusahaan swasta, pasti sudah di level Manager atau lebih”, gumam saya melihat cara berpikir dan sistematika eksekusinya di bidang Qur’an.

Ketiga, sebagai pesantren yang baru dirintis; keterbatasan kami terlalu banyak, kelemahan kami tidak terhitung, kelebihan kami maksimum dieja dengan 5 jari pun sisa. Kami memutar otak bagaimana bisa dalam sekali waktu halaqah mendisiplinkan 40 santri baru dengan latar belakang berbeda, dengan hanya dikawal 3 orang musyrif, dan waktu tidak lebih dari 60 menit. Di sisi lain, bagaimana kami bisa menyeragamkan cara baca yang benar dengan sekian banyak disparitas kemampuan bacaan santri. Tambah lagi, bagaimana setiap anak bisa disimak dan dilakukan perbaikannya secara terstruktur dan berkelanjutan.

Di titik ini, kami menemukan mentalaqi bacaan yang benar dan mengulang-ulangnya secara bertahap. Jika diperlukan, pengulangan sampai tingkat kata (kalimah), dan huruf atau per hukum bacaan. Proses ini berlalu lebih dari 6 bulan. Pikiran kami hanya 1, menekuni dan menemukan mana yang lebih efektif, produktif, dan efisien.

Akhirnya, sedikit demi sedikit pola itu terbentuk. Nada mulai seragam, waqof seragam, mad seragam, hukum-hukum nun sukun seragam, hukum-hukum mim sukun seragam, dan seterusnya. Di sini kami putuskan menggunakan 1 lagu Jiharkah menjadi lagu standar yang harus dikuasai santri. Dengan lagu ini, semua musyrif memimpin dan memandu ngaji bersama. Lambat laun, pola yang terbentuk ini semakin jelas.

Tanpa kami sadari, ada perubahan sikap dan mental yang mengiringi pendekatan ini. Pertama, santri jadi kuat duduk satu jam mengaji tanpa terdistraksi oleh hal-hal lain. Kedua, fokus mereka meningkat secara bertahap. Ketiga, muncul empati atas kesalahan sesama. Keempat, lahir stabilitas dan konsistensi bacaan secara gradual. Kelima, terbentuk ketanggapan untuk menyesuaikan diri ketika tertinggal dari yang lain. Keenam, didapati koreksi berkelanjutan atas kesalahan yang ada. Ketujuh, munculnya semangat kebersamaan untuk menyelesaikan target bersama.

Subhanallah. Betapa kami tidak bersyukur atas semua karunia ini. Sungguh, ini adalah ‘aqobah; jalan mendaki lagi sukar yang harus kami tempuh. Jalan ini masih terus mendaki dan terjal. Jalan ini masih panjang. Kami memilih sesekali melihat ke spion masa lalu dan membentangkan kaca depan lebih luas untuk maju.

Tidak ada sedikitpun keraguan dalam benak kami bahwa semua yang tersentuh oleh Qur’an akan mulia, semua yang berinteraksi dengan Qur’an akan baik, dan semua yang berpegang pada Qur’an akan sampai tujuan.

Even the best can be improved, meski sudah terbaik masih bisa ditingkatkan, demikian nasihat yang kami terima dari Guru kami di Gontor dulu. Kami masih pegang selalu. Kami yakin, jika kemauan kami benar, jalan akan jelas terpampang. Idza shodaqol ‘azmu, wadhohas sabiil.

Malam Jumat di Makarimul Qur’an

Ayah Saf.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top