
Kulonprogo – Majelis pengajian malam di Pondok Pesantren Makarimul Qur’an kembali berlangsung khidmat.
Pada kesempatan tersebut, Ust. Safruddin Wibowo menyampaikan tausiyah mendalam mengenai pentingnya memberi makna dalam setiap perbuatan serta membangun etos kerja bagi para santri.
Mengutip pemikiran ulama besar Imam Al-Ghazali, Ust. Safruddin mengawali kajiannya dengan mengingatkan para santri agar tidak menjadi orang yang rugi dalam setiap tindakan sehari-hari.
Menurut beliau, tolok ukur keuntungan seseorang bukan sekadar dinilai dari materi, melainkan dari sejauh mana ia dapat memetik makna dari apa yang dilakukannya.”Seseorang dianggap beruntung ketika perbuatannya menghadirkan makna. Sebaliknya, ia tergolong rugi jika melakukan sesuatu tanpa mendapatkan makna apa pun,” tutur beliau di hadapan para santri.Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa ciri orang yang berhasil mendapatkan makna adalah mereka yang berani menghadapi kenyataan.
Untuk mengumpulkan makna hidup, santri diimbau agar terus sibuk beramal dan pantang menghindari tanggung jawab.Ust. Safruddin juga mengingatkan bahaya kelalaian dan sikap menyia-nyiakan waktu. Beliau menegaskan bahwa diam di saat ada pekerjaan adalah bentuk kerugian besar. Dalam analoginya tentang kebangkrutan, beliau menyebutkan bahwa kebangkrutan sejati terjadi ketika modal (waktu dan kesempatan) habis, tetapi justru meninggalkan beban dan utang.
Di akhir materi, Ust. Safruddin menekankan bahwa ilmu yang dimiliki tidak akan membuahkan hasil tanpa diimbangi dengan tindakan nyata dan kerja keras.”Ilmu saja tidak cukup kecuali diimbangi dengan keringat. Orang yang punya ilmu tapi tidak bekerja ibarat orang yang diterkam singa; ia membawa senjata di tangannya, tetapi tidak mengayunkannya,” tegas beliau.
Sebagai penutup, beliau menggembleng para santri untuk senantiasa menerapkan prinsip kerja 4 AS ; yaitu Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas, dan Kerja Tuntas. Kajian malam tersebut kemudian ditutup dengan do’a bersama
